Abu yang menjadi sawah: mengapa tanah vulkanik begitu subur
Dari letusan ke lumbung padi.
Kalau kita melihat peta kepadatan penduduk Jawa, pola yang muncul sulit diabaikan: orang berkumpul di lereng dan kaki gunung api. Sekilas aneh, karena gunung api adalah tempat yang berbahaya. Tapi ada alasan yang sangat masuk akal, dan alasannya ada di dalam tanah.
Batuan dan abu yang dimuntahkan gunung api kaya akan mineral yang dibutuhkan tumbuhan, seperti kalium, fosfor, magnesium, dan berbagai unsur lain. Abu itu halus, sehingga mudah lapuk oleh hujan dan panas tropis. Pelapukan itu melepaskan mineral sedikit demi sedikit ke dalam tanah, seperti pupuk yang dilepas pelan-pelan selama puluhan hingga ratusan tahun.
Baca juga: Mengapa 30 derajat di pesisir terasa lebih gerah daripada di pegunungan
Tanah muda yang terus diperbarui
Tanah di daerah tropis sebenarnya cenderung miskin hara. Hujan yang deras sepanjang tahun mencuci mineral dan membawanya ke sungai lalu ke laut. Tanah di hutan tropis yang tua sering kali tinggal kerangkanya saja, kesuburannya tersimpan di tumbuhan yang hidup di atasnya, bukan di tanahnya.
Gunung api membalik cerita itu. Setiap letusan menaburkan lapisan abu baru, mengisi kembali apa yang sudah hilang terbawa hujan. Tanah di lereng gunung api adalah tanah yang selalu muda, selalu diisi ulang.
Tentu ada harga yang harus dibayar. Letusan merusak, dan lahar dingin bisa menyapu ladang yang baru saja ditanami. Tapi dalam hitungan generasi, petani tahu betul: beberapa tahun setelah letusan, panen biasanya kembali, bahkan lebih baik. Itulah tawar-menawar tua antara manusia dan gunung, dan selama ribuan tahun manusia memilih untuk tinggal.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.