Edisi 14 Agustus 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsAlam

Mengapa sungai di dataran rendah hampir tidak pernah lurus

Sedikit belokan saja cukup untuk memulai lengkungan yang tumbuh sendiri.

Lihatlah peta sungai mana pun di dataran rendah Kalimantan atau Sumatra, dan Anda akan melihat garis yang berkelok seperti ular. Sungai yang lurus biasanya buatan manusia. Yang alami hampir selalu berliku. Mengapa?

Air yang mengalir tidak pernah benar-benar seragam. Sebuah batu, sebatang pohon tumbang, atau tanah yang sedikit lebih lunak di satu sisi cukup untuk membelokkan arus sedikit. Begitu arus membelok, air di sisi luar belokan bergerak lebih cepat dan menggerus tebing. Air di sisi dalam bergerak lebih lambat dan menjatuhkan pasir serta lumpur yang dibawanya.

Baca juga: Pasang surut: tarikan Bulan yang mengatur rob di kampung pesisir

Hasilnya, sisi luar terus terkikis dan sisi dalam terus ditimbun. Belokan kecil itu tumbuh menjadi belokan besar, dan belokan besar memicu belokan berikutnya di hilir. Sungai pada dasarnya menggali ulang jalannya sendiri, pelan tapi tanpa henti.

Kalau lengkungan sudah terlalu tajam, sungai kadang mengambil jalan pintas saat banjir, menerobos leher lengkungan. Bagian yang ditinggalkan menjadi danau berbentuk tapal kuda yang terpisah dari sungai utama. Danau seperti ini banyak ditemukan di sepanjang sungai besar di Kalimantan.

Di daerah bergunung, sungai jauh lebih lurus karena arusnya kuat dan sibuk menggali ke bawah, bukan ke samping. Begitu tiba di dataran rendah yang landai, arus melambat, energinya dipakai untuk menggerus ke samping, dan kelokan pun mulai terbentuk.

Proses ini berjalan terus hingga sekarang. Tepi sungai yang dibangun rumah sepuluh tahun lalu bisa tergerus hari ini, bukan karena sungai sedang marah, melainkan karena sungai memang tidak pernah berhenti memindahkan dirinya.

VH
Vina HartantoVina bergabung pada 2023 dan merupakan penulis aktif dengan sembilan belas artikel, dari mekanisme vaksin hingga pergerakan lempeng di bawah kepulauan Indonesia. Ia memulai setiap artikel tentang gempa dengan membaca ulang katalog kejadian dari badan geofisika untuk wilayah yang dibahas.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.