Banjir sering datang setelah tanah kenyang, bukan saat hujan paling deras
Tanah punya daya tampung, dan daya tampung itu ada batasnya.
Awal Desember ini hujan hampir setiap sore di tempat saya, dan ada satu hal yang selalu membuat tetangga heran. Hujan paling deras minggu lalu lewat begitu saja, airnya cepat surut. Lalu kemarin hujan yang jauh lebih biasa, tidak sampai dua jam, tapi jalan depan rumah berubah jadi sungai kecil. Kok bisa?
Jawabannya ada di bawah kaki kita. Tanah itu seperti spons. Ketika kering, ia menyerap air hujan dengan rakus, dan sebagian besar air masuk ke dalam, bukan mengalir di permukaan. Tapi spons yang sudah basah kuyup tidak bisa menyerap lagi. Setiap tetes tambahan langsung meluncur di permukaan, mencari selokan, dan selokan pun cepat penuh.
Baca juga: Awan menjulang di sore pancaroba: tanda hujan yang datang mendadak
Hujan kemarin menentukan nasib hujan hari ini
Jadi yang menentukan banjir bukan hanya seberapa deras hujan hari ini, tapi seberapa banyak air yang sudah tersimpan di tanah dari hari-hari sebelumnya. Setelah berhari-hari hujan berturut-turut, tanah sudah kenyang. Hujan ringan sekalipun bisa jadi tetes terakhir yang membuat gelas tumpah.
Ini juga sebabnya daerah yang banyak tertutup beton dan aspal lebih cepat tergenang. Di sana tanah bahkan tidak sempat bekerja sebagai spons; air langsung mengalir sejak tetes pertama. Pekarangan berumput, lubang resapan, dan tanah terbuka adalah spons yang kita biarkan tetap ada di tengah kota.
Saya jadi lebih memperhatikan ramalan hujan beberapa hari ke depan daripada satu hari saja. Kalau sudah tiga hari berturut-turut, saya tahu tanahnya sudah penuh, dan hujan sore berikutnya patut diwaspadai, sederas apa pun.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.